diam bukan berarti bisu

Wednesday, March 20, 2019

Caraku untukmu

Aku tau, jatuh terlalu dalam adalah salah. Begitupun melangkah terlalu lebih, itu tak bisa. Maka inilah caraku dalam menyimpan namamu.

Aku sadar, kesyukuranku tentangmu sudah jauh dari kata cukup. Kamu sadar akan keberadaanku saja sudah bagus. Aku tak berani meminta lebih, jauh dari apa yang kukuasai.

Berada di sampingmu tanpa kau balas perasaanku pun saja sudah membuatku bahagia. 

Aku hanya ingin rinduku menumpang barang sejenak di dadamu. Tak ada paksaan untukmu membalasnya.

Aku hanya ingin menumpahkan tiap harap di pelukmu. Tak pula memaksamu untuk repot-repot mewujudkannya. 

Aku hanya ingin mencintaimu. Tanpa memaksamu kembali membalas cinta. 

Kelak, jika doa-doa panjang tuk bersamamu tak pernah Tuhan wujudkan. 
Aku tidak pernah menyesal telah menyebutmu dalam lirih pintaku. 
Dalam dinginnya pagi-pagiku. Dalam letihnya malam-malamku. Dalam rindu-rindu yang sepi tanpa pernah merasakan peluk yang pasti. 

Karena bagiku, mencintaimu saja sudah nikmat tiada dua. 

Mencintaimu adalah hal istimewa. Yang tak pernah bisa terganti, tertukar, bahkan terbeli oleh apapun. Dengan apapun. 

Mencintaimu adalah wujud kebaikan Tuhan akan indahnya hidup. Yang mungkin, tak orang lain beri namun aku dapat merasai. 

Mencintaimu saja sudah membuatku bahagia, apalagi bisa memiliki dan menghabiskan usia bersamamu. 


Taban. 21 Maret 2019


Read More

Tuesday, January 1, 2019

Makmum-mu


Jarak kita hanya segelaran sajadah hijau
Sebelah kanan
Di belakangmu

Takbirmu mengawali
Dengan menyebut nama Ia Yang Maha Agung
Aku menjelma sebagai makmum
Dan kau, adalah penuntun

Allahuakbar

Penyerahan diri hamba pada Sang Kuasa
Menggugurkan resah dalam doa
Sujud pinta tiada dusta
Tuhan mendengar jerit hati siapa

Allahuakbar

Lirih doa mengalun dari bibirmu
Kuaamiinkan dengan penuh khusu'
Terselip kata semoga yang tak tau malu
Aku meminta pada Tuhanku

Allahuakbar

Tiadalah dusta aku kini
Memintamu pada illahi
Berkenankah Ia  menganugerahi
Sosok lelaki yang kuaamiini
Yang kucium tangannya setiap hari

Allahumma aamiin





Bogor, 29 Desember 2018
Read More

Thursday, December 27, 2018

Lantas syukur

Dalam tatapan dua pasang mata yang saling bertemu.
Ada kata lain dalam setiap bait do'a.
Ada lirih aamiin yang sungguh pada rangkaian semoga.
Ada telinga yang menajam di tiap lantunan suara.
Ada rasa syukur tiada kira dari sebuah jumpa.

Raga mungkin saja tak saling memiliki
Namun hati tak ingin membual janji
Sebaris salam yang enggan berbunyi
Adalah rasa yang terbentang bak pelangi

Sungguh, kesyukuran ini tak menemui kata cela
Ia hadir tanpa bisa ku duga
Meski diam menjadi pilihan paksa
Ku ikhlas memendam dalam keheningan 
Biar Tuhan yang membalas semua nyawa kebaikan yang kau torehkan.
Jazakallah khairan katsiiraa


Taban, 27 Desember 2018
Read More

Wednesday, December 26, 2018

Perpisahan itu (?)

Berpisah itu mudah.

Kebanyakan orang menilai perpisahan adalah sebuah patah yang berujung hancur. Tak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa perpisahan mereka adalah akhir dari cerita hidup. Aku tertawa. Sungguh bodoh.

Perpisahan a.k kehilangan, menurutku hanya sebuah tepian jalan yang harus ada dalam hidup. Allah juga sudah memberikan penjelasan bahwa di dunia ini segalanya berpasangan; ada berdampingan dengan tiada, suka selalu setelah duka, dan aku insyaallah dengannya. hehehe

Aku beberapa kali mengalami perpisahan. 
Yang terberat ialah berpisah dengan cinta sejatiku, Ayah. Tapi aku tidak akan menangis sedu menceritakan itu. Aku ingin berbagi soal yang lain. 

Tak ada kamu di hidupku, aku mampu. 
Amat sangat setuju.
Sebelum kamu bersepakat untuk menjalin hubungan, hidup kamu aman dan berjalan baik. Sebelum kamu berjalan bergandengan, kamu mampu untuk berlari dengan kakimu sendiri. Lantas, mengapa perpisahan identik dengan quote "Aku tak bisa hidup tanpamu"?.

Perpisahan itu hal yang biasa.
Coba bayangkan jika tidak pernah mengalami perpisahan ? Akan sangat monoton hidup ini.

Sekolah saja ada perpisahannya. Bertemu teman saja ada perpisahannya. Hubungan kasih juga wajar jika ada perpisahan. Yang menjadikan perpisahan itu luka ialah alasan dibalik perpisahan itu.

Perselingkuhan. Kebohongan. Kekerasan. Ketidakcocokan. Tak adanya restu. Atau tikung menikung. Ah, bukan hal aneh.

Dalam sebuah perpisahan, melupakan adalah satu diantara banyaknya obat untuk bangkit. Melupakan itu hal yang mudah. Kita hanya perlu terbiasa.

Terbiasa untuk tak lagi mendengar; tawa, cerita, bahkan berita
Terbiasa untuk tak lagi melihat; wajah, foto, bahkan pesan.
Yang kesemuanya bersumber dari satu mata yang pernah selalu ada.

Berpisah itu mudah. Melupakan juga mudah.

Yang sulit ialah membiasakan hal yang sudah terlanjur menjadi biasa.



Tangerang, 26 Desember 2018.
Read More

Tuesday, November 27, 2018

Rindu yang salah

Rindu ini menggema. Sampai di ujung luka
Semalaman aku terdiam. Menatap cermin dalam gelap ruang. Bodoh. Sudah kukatakan untuk tak lagi mencintai terlalu dalam. Sudah kuperingatkan untuk tak lekas menebar harap. Namun liar seakan menjadi sifat hati yang mendarah daging.

Kulihat lagi kepingan yang entah kini masih bisa disebut kepingan-kah, atau debu ?

Aku merindunya.

Ledakan suara dalam sunyi malam. Seakan ingin meneriaki si pecundang keji yang kini entah masih berwujud lelaki atau kah menjadi banci? Ah, kau mengatainya seakan kau membencinya. Pendusta.

Jangan kau berteriak pada telinga yang mendengung. Sia-sia.
Jangan kau bicara pada bising metromini dalam kota. Percuma.


Semerindunya seorang kekasih adalah lebih baik. Semerindunya seorang sahabat lebih dari kata pantas. Dan aku? Mau mengibaratkan sebagai apa di hidupmu kini ? 
Mantan ? 
Mantan apa ? 
Apa kita dulu sepasang kekasih yang saling melontar kalimat cinta penuh romantika ?

Aku lupa. 
Namun akupun rindu.


Tangerang, 25 November 2018
Read More

Saturday, November 17, 2018

Temanku

Seringkali aku mengumbar cerita pada setiap kawan yang kutemui. Entah itu soal adik, film, baju, makanan, bahkan soal tragedi. Namun, tak banyak (belum pernah) aku mengisahkan sosok satu ini.
Adanya dia merupakan hal tak nyata. Sebab ia hanya muncul ketika waktu senggang tiba.
Adanya dia merupakan hal tabu untuk dikisahkan. Sebab ia hanya perlintasan yang nyatanya kusemogakan.

Aku mengenalnya di hitungan bulan satu tanganku.
Tak banyak yang tau, ah.. bahkan hanya Tuhan yang paham alur perkenalanku.
Menjadi sosok teman. Yang selalu mendengar, menyimak, menasehati, dan menyayangi.
Ya, dia adalah teman.
Temanku.

Aku menyebutnya, Temanku.
Biar kuperkenalkan kepada kalian.
Temanku.
Sebut saja dia begitu.

Makhluk Tuhan ini tak seistimewa pacar, kekasih, atau gebetan. Temanku ini adalah perumpamaan Indomie versi aku. Sederhana namun tetap menjadi favorit dan pilihan di setiap kondisi dan suasana.
Manusia super sibuk ini hanya dapat menyisihkan keluangannya untuk berteman denganku sebentar saja di tiap harinya.
Manusia penuh dengan semangat dan pengorbanan dalam hidup ini mampu membuatku selalu berkata "oh iya ya, harusnya gua begini" di setiap pemecahan masalah yang ku sampaikan padanya.
Manusia dengan kecadelan pada huruf konsonan "L" ini selalu punya hal sederhana yang pasti membuat diriku ketawa seketawa-ketawanya aku tertawa.

Singkatnya,
Temanku ini adalah teman baru namun kurasa lama menetap dan kusemogakan lama mendampingi.
Lain waktu aku ceritakan lagi tentang Temanku ini.

Sekian.


Taban, 17 November 2018
Read More

Thursday, October 18, 2018

Kepada Diriku Sendiri

Mencintai begitu penuh, menyayangi dengan menyeluruh. Pada akhirnya, hatimu hilang separuh.

Kepada diriku sendiri yang kini dirundung sepi. Jangan lagi mencintai seseorang dengan begitu dalam yang pada akhirnya nanti akan pergi lagi. Jangan menjadikannya pusat semesta sebab kini kau sudah tau betapa sakitnya duka karena kehilangan. Sekedarnya sajalah dalam mencintai. Sebab, kamu tidak akan tau, seseorang yang nantinya kau jadikan akhir dari perjalananmu akan bertahan pada masa ke berapa di sampingmu. Sebab kepergian sudah seiring dengan kehadiran. Dan itu adalah garis kehidupan.

Jangan kau terus membentengi rasa sakitmu dengan tembok tinggi. Perhatikan juga sekelilingmu. Seseorang yang hadir dan menyayangimu dengan begitu penuh juga butuh perhatianmu. Janganlah kau menghindar. Jalankan saja garis kehidupan. Namun tetap pada batas tak berlebihan.

Kepada diriku sendiri, jangan lupa bahagia. Hanya dirimulah yang sepenuhnya berhak mencintai dengan berbagai alasan untuk dirimu sendiri. 


Tangerang, 18 Oktober 2018


Read More
Powered by Blogger.