diam bukan berarti bisu

Thursday, October 18, 2018

Kepada Diriku Sendiri

Mencintai begitu penuh, menyayangi dengan menyeluruh. Pada akhirnya, hatimu hilang separuh.

Kepada diriku sendiri yang kini dirundung sepi. Jangan lagi mencintai seseorang dengan begitu dalam yang pada akhirnya nanti akan pergi lagi. Jangan menjadikannya pusat semesta sebab kini kau sudah tau betapa sakitnya duka karena kehilangan. Sekedarnya sajalah dalam mencintai. Sebab, kamu tidak akan tau, seseorang yang nantinya kau jadikan akhir dari perjalananmu akan bertahan pada masa ke berapa di sampingmu. Sebab kepergian sudah seiring dengan kehadiran. Dan itu adalah garis kehidupan.

Jangan kau terus membentengi rasa sakitmu dengan tembok tinggi. Perhatikan juga sekelilingmu. Seseorang yang hadir dan menyayangimu dengan begitu penuh juga butuh perhatianmu. Janganlah kau menghindar. Jalankan saja garis kehidupan. Namun tetap pada batas tak berlebihan.

Kepada diriku sendiri, jangan lupa bahagia. Hanya dirimulah yang sepenuhnya berhak mencintai dengan berbagai alasan untuk dirimu sendiri. 


Tangerang, 18 Oktober 2018


Read More

Wednesday, May 16, 2018

Duaempat bulan

Aku ingin bercerita.
Tentang sosok yang sudah hitungan bulan ke duaempat mengisi tiap ruang hari.
Dia tidak special. Tidak juga istimewa.
Namun dia adalah dia.
Yang terus menemani tawa dan duka.


Janjinya adalah menikahiku.
Entah itu akan Tuhan ijabah ataukah tidak.
Sebab manusia hanya bisa merencanakan, bukan ? 

Meski harap adalah lingkaran besar yang memenuhiku. Tapi aku juga manusia biasa, yang terkadang khawatir. Apa yang kuingin tak sesuai dengan gatis takdir.

Empatbelas bulan. Perhitunganku yang kurasa benar, namun bisa jadi kurang atau lebih. Gak tau lah. Pokoknya segitu.

Bukan waktu yang sebentar.
Aku sudah tau buruk, busuk lelaki ini.
Dia tau jelek, rusak diriku ini.

Lantas, bila nanti garis takdir tak merestui.
Akankah ada yang seperti dia?
Bahkan lebih baik darinya ? 




Tangerang, 14 Mei 2018
Read More

Wednesday, March 8, 2017

Rindu

Rindu pada tawa yang entah mengapa selalu terdengar renyah. Membuat telinga enggan untuk pindah. Tetap di tempat. Menikmati suara penuh hikmat.

Aku merindumu sejak hari lalu.
Temu tak jua berbaik hati padaku.
Keinginanmu kah ? 
Atau Tuhan tengah bercanda pada kita?

Aku merindumu sejak hari ini. 
Melewati petang demi petang sunyi.
Tanpa suara, apalagi canda.
Seorang diri, tanpa peluk yang pasti.

Aku merindumu sedini ini. 
Menuang harap yang kian menebal.
Memuji senja yang tak pernah mengenal.
Dan dirimu, yang kembali ingkar di setiap hal.

Aku merindumu sesabar itu.
Dan menunggumu seresah sungguh. 
Read More
Powered by Blogger.